Kediri headlinenews.cloud – Proyek P3TGAI Desa Padangan, Kecamatan Kayen Kidul, kini menimbulkan tanda tanya besar. Warga mempertanyakan keberadaan Kepala Desa yang hingga kini belum pernah memberikan klarifikasi terkait dugaan penyimpangan dana Rp195 juta.
Proyek yang seharusnya memperkuat ketahanan pangan justru dinilai asal-asalan. Investigasi menemukan penggunaan campuran semen 6:1, padahal standar BBWS jelas menetapkan 4:1. Batu belah pun diganti dengan batu kali campuran, membuat kualitas irigasi diragukan.
Tak hanya soal teknis, masalah finansial juga mencuat. Ketua HIPPA, Suroto, mengaku telah menyerahkan Rp20 juta kepada pihak aspirator. Dugaan adanya potongan ini semakin mempertebal kecurigaan publik.
Ironisnya, Kepala Desa Padangan selalu tidak bisa ditemui. Dua kali didatangi tim investigasi, yang muncul hanya perangkat desa yang tidak berwenang memberi keterangan. Sikap bungkam ini dianggap sebagai upaya menghindar dari tanggung jawab.
Warga menilai, jika proyek vital ini dikelola secara asal, maka yang akan merugi adalah petani sendiri. Saluran irigasi yang seharusnya bisa dipakai puluhan tahun, bisa jadi rusak hanya dalam hitungan tahun.
Kini masyarakat mendesak agar aparat penegak hukum turun tangan. Skandal ini dinilai bukan sekadar kelalaian, melainkan berpotensi besar sebagai tindak pidana korupsi.
(red.FR)
Post a Comment